Portal Media Online - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memengaruhi pasar keuangan global, dengan lonjakan harga minyak mentah yang memberikan tekanan pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah.
Kenaikan harga minyak terjadi setelah Amerika Serikat melancarkan serangan udara ke wilayah Iran di sekitar Selat Hormuz, yang memicu eskalasi konflik di kawasan tersebut. Ekonom Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menjelaskan bahwa harga minyak mentah dunia kini berada di kisaran 72 hingga 75,9 dolar AS per barel, meningkat dari sebelumnya yang berkisar antara 68 hingga 72 dolar AS.
Dalam satu hari perdagangan, kenaikan harga minyak mencapai 3,5 hingga lebih dari 5 persen. Gunawan menambahkan bahwa situasi ini menunjukkan bahwa konflik di Timur Tengah belum mereda. Aksi saling serang yang terus berlangsung meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi gangguan distribusi minyak melalui Selat Hormuz, yang merupakan jalur pelayaran energi terpenting di dunia.
Gunawan mengingatkan bahwa lonjakan harga minyak ini berpotensi memicu inflasi global, karena dapat meningkatkan biaya energi dan produksi di berbagai sektor. Dampak yang ditimbulkan tidak hanya akan memengaruhi harga bahan bakar minyak (BBM), tetapi juga biaya produksi di industri jika kondisi ini berlangsung lama. IHSG juga mengalami koreksi pada awal perdagangan.