Kapal Perang Rusia Latihan Militer di Iran, AS Tingkatkan Kehadiran Jet Tempur di Timur Tengah
Ringkasan Berita:
TRIBUNNEWS.COM, IRAN – Kapal induk helikopter Angkatan Laut Rusia, Stoikiy, berlabuh di pangkalan angkatan laut strategis Bandar Abbas di Iran pada Rabu (18/2/2026) waktu setempat.
Sebagaimana diberitakan Mehrnews, kapal perang Rusia itu akan berpartisipasi dalam latihan militer dengan Angkatan Laut Iran.
Latihan gabungan ini juga melibatkan angkatan udara kedua negara.
Latihan militer ini dirancang untuk meningkatkan keamanan maritim, memperbaiki koordinasi operasional, dan memperkuat kerja sama pertahanan.
Wilayah Angkatan Laut Pertama Iran, yang terletak di Bandar Abbas, berfungsi sebagai pusat strategis utama untuk operasi angkatan laut negara tersebut dan memainkan peran sentral dalam mengembangkan kemitraan militer dan maritim dengan negara-negara sahabat.
Latihan ini menggarisbawahi komitmen Iran dan Rusia untuk memajukan kemampuan angkatan laut bersama sekaligus memastikan stabilitas regional di Teluk Persia.
Latihan militer ini digelar di Teluk Oman.
Pekan lalu, media Amerika melaporkan bahwa AS akan mengirimkan kapal induk terbesarnya, USS Gerald R. Ford, untuk memperkuat pasukannya di Timur Tengah.
Kapal USS Gerald R. Ford dan kapal-kapal pengawalnya sebelumnya telah ditempatkan di Karibia menurut empat pejabat AS yang tidak ingin disebutkan namanya.
Kapal USS Abraham Lincoln serta aset udara dan angkatan laut penting lainnya, telah dikerahkan ke daerah tersebut pada bulan Januari.
24 jam terakhir kerahkan 50 jet
Dikutip dari Jerussalem Post, Rabu (18/2/2026), militer AS telah memindahkan lebih dari 50 jet tempur ke Timur Tengah dalam 24 jam terakhir.
Demikian dilaporkan Axios pada Selasa 17 Februari 2026 waktu AS, mengutip seorang pejabat AS.
Sejumlah jet F-16, F-22, dan F-35 terlihat menuju Timur Tengah oleh pelacak penerbangan independen.
Pengerahan militer Amerika ini terjadi di tengah negosiasi tidak langsung dengan para pejabat Iran, yang berfokus pada program nuklir Iran.
Wall Street Journal mengulas ini adalah peningkatan kekuatan udara AS di Timur Tengah yang terbesar sejak invasi tahun 2003 di Irak.




