Keluarga Korban Gigitan Ular Keluhkan Penanganan RSUD Ahmad Yani
Portal Media Online - Metro (ANTARA) - Keluarga pasien mengeluhkan pelayanan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ahmad Yani Kota Metro yang tidak bisa memberikan penanganan memadai kepada korban gigitan ular berbisa.
Sebelumnya, Bambang Siswanto, warga Kecamatan Punggur, Kabupaten Lampung Tengah, menjadi korban gigitan ular berbisa saat sedang bersih-bersih di sebuah panti jompo di Lampung Tengah.
Sang anak korban, Pita menjelaskan, setelah digigit ular, keluarga segera membawa Bambang ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Ahmad Yani, yang merupakan rumah sakit rujukan utama di wilayah tersebut.
Namun, harapan untuk mendapatkan pertolongan pertama sirna lantaran RSUD Ahmad Yani tidak memberikan penanganan memadai.
"Ayah saya kritis karena digigit ular, kami bawa ke RSUD Ahmad Yani, tapi ditolak," jelas Pita saat ditemui Sabtu.
Menurut dia, rumah sakit berdalih tidak memiliki stok obat untuk penanganan gigitan ular berbisa (anti-bisa ular/ABU) dan tidak mau mengambil risiko.
"Katanya tidak ada obat untuk pasien gigitan ular, dan mereka tidak mau ambil risiko. Kami disuruh cari rumah sakit lain," tambahnya.
Setelah tidak mendapat respon, akhirnya pihak keluarga membawa Bambang ke sebuah rumah sakit di Kabupaten Lampung Tengah. Beruntung, korban akhirnya mendapatkan penanganan medis yang dibutuhkan.
"Saya sangat kecewa dengan pelayanan RSUD Ahmad Yani Kota Metro. Di saat ayah saya kritis, bukannya dibantu, malah dipersulit. Apa gunanya rumah sakit rujukan kalau menolak pasien gawat darurat," katanya.
Sementara itu, Direktur RSUD Ahmad Yani Kota Metro, Fitri Agustina mengaku masih akan melakukan penelusuran terkait insiden penolakan ini.
"Informasi dari bagian farmasi, stok obatnya memang kosong dari distributor. Tapi nanti masih akan saya telusuri ke lapangan," tandasnya.




