Ketegangan di Timur Tengah: Ancaman Perang Besar Mengintai
Muhammad Thaufan Arifuddin
Dosen Ilmu Komunikasi Fisip Universitas Andalas dan lulusan Sekolah Pascasarjana Pembangunan Internasional (GSID), Universitas Nagoya, Jepang.
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Jakarta - Potensi pecahnya perang besar dalam waktu dekat di kawasan Timur Tengah bukanlah sekadar spekulasi media, melainkan konsekuensi logis dari pergeseran paradigma politik luar negeri Amerika Serikat yang semakin sinkron dengan agenda ekspansionis Israel.
Dalam buku Trump: America's First Zionist President (2019) karya Derek Mailhiot, dijelaskan bagaimana kebijakan Donald Trump secara fundamental berakar pada dukungan tanpa syarat terhadap aspirasi Zionisme, termasuk pengakuan atas Yerusalem dan pemukiman ilegal.
Dominasi lobi pendukung Israel dalam struktur pengambilan keputusan di Washington telah menciptakan jalur cepat menuju konfrontasi militer, di mana kepentingan domestik AS kini hampir tidak dapat dibedakan dari agenda keamanan nasional Israel.
Ambisi politik ini dipertegas dengan munculnya narasi The Greater Israel yang secara implisit maupun eksplisit didukung oleh tokoh-tokoh kunci seperti Dubes Mike Huckabee. Perspektif ini sejalan dengan analisis Paul Moorcraft dalam Israel's Forever War (2024), yang memaparkan bahwa bagi Israel, perang bukanlah sekadar instrumen pertahanan sementara, melainkan kondisi permanen untuk mempertahankan dan memperluas kontrol teritorial.
Visi ini melampaui batas-batas tradisional dan menargetkan restrukturisasi total kawasan, yang secara otomatis menempatkan setiap kekuatan yang menentangnya sebagai target militer yang harus dilumpuhkan dalam waktu dekat.
Iran, dalam konteks ini, muncul sebagai hambatan utama sekaligus target primer dari aliansi AS-Israel. Mohsen M. Milani dalam Iran's Rise and Rivalry with the US in the Middle East (2025) menjelaskan bahwa kebangkitan Iran sebagai kekuatan regional yang mandiri mengancam monopoli AS atas sumber daya ekonomi, terutama jalur minyak dan gas di Teluk.
Pengacauan terhadap Iran bukan hanya soal ideologi, melainkan upaya strategis untuk menghapus satu-satunya aktor yang memiliki kapasitas militer dan jaringan proksi yang mampu menghalangi penguasaan total atas aset energi di kawasan tersebut.
Persaingan ini juga dipicu oleh kekhawatiran atas upaya Iran mencapai supremasi regional. Dokumen dari Jerusalem Center for Public Affairs bertajuk Iran's Race for Regional Supremacy (2008) menyoroti bahwa infiltrasi pengaruh Iran di Lebanon, Suriah, dan Yaman dipandang sebagai ancaman eksistensial bagi tatanan yang dipimpin Barat.
Logika militeristik yang dianut oleh koalisi Zionisme memandang bahwa diplomasi telah gagal, dan satu-satunya cara untuk menghentikan pengaruh Iran serta mengamankan proyek ekspansi Israel adalah melalui konfrontasi fisik yang mungkin terjadi dalam hitungan minggu seiring dengan meningkatnya ketegangan di lapangan.
Secara lebih mendalam, Jalil Roshandel dan Nathan Chapman Lean dalam Iran, Israel, and the United States: Regime Security vs. Political Legitimacy (2011) berargumen bahwa ketegangan ini dipicu oleh kebutuhan rezim untuk menjaga legitimasi politik melalui retorika keamanan.
Bagi pemerintahan Trump dan Netanyahu, eskalasi perang terhadap Iran berfungsi sebagai pemersatu basis massa pendukung di tengah tekanan domestik. Kontrol lobi Yahudi di AS memastikan bahwa sumber daya militer dan finansial Amerika tetap tersedia untuk mendukung setiap langkah agresif Israel yang bertujuan mengamankan supremasi absolut di Timur Tengah.
Situasi ini seharusnya menjadi alarm bagi negara-negara Arab untuk menyadari bahwa mereka sedang berada dalam skema imperialisme baru. Proyek ekspansi Zionisme tidak akan berhenti di Palestina atau Gaza; stabilitas negara-negara tetangga juga dipertaruhkan jika tatanan kawasan runtuh akibat perang besar.
Jika negara-negara Arab tetap pasif dan terjebak dalam skema Barat, mereka hanya akan memfasilitasi terciptanya kedaulatan tunggal Israel yang didukung penuh oleh militer Amerika, yang pada akhirnya akan mereduksi kedaulatan ekonomi dan politik bangsa-bangsa Arab sendiri.
Lebih jauh lagi, ancaman ini juga mengintai kekuatan global seperti Rusia, Cina, dan Turki. Imperialisme Zionisme yang berkelindan dengan kebijakan luar negeri AS bertujuan untuk menutup akses kekuatan luar terhadap sumber daya minyak regional.
Jika Iran runtuh atau dilumpuhkan, maka jalur ekonomi dan pengaruh diplomatik Rusia serta Cina di Timur Tengah akan terputus. Turki, sebagai kekuatan regional lainnya, akan menjadi mangsa selanjutnya dalam proyek penyeragaman kawasan yang tidak mentoleransi adanya kutub kekuatan independen selain Israel yang didukung Amerika.
Logika yang dipaparkan oleh Moorcraft (2024) mengenai perang abadi Israel menunjukkan bahwa mesin perang Israel memerlukan musuh konstan untuk membenarkan ekspansinya. Setelah Gaza dan Lebanon, target logis berikutnya adalah jantung kekuatan penentang, yaitu Iran.
Dengan dukungan lobi di Washington yang mampu mengarahkan kebijakan luar negeri AS, perang dalam beberapa minggu ke depan menjadi sangat mungkin terjadi sebagai upaya pre- emptive untuk mengamankan proyek "The Greater Israel" sebelum peta geopolitik global berubah akibat tekanan dari aliansi ekonomi timur.
Alhasil, eskalasi di Timur Tengah saat ini adalah manifestasi dari pertemuan antara kepentingan ekonomi minyak, ambisi teritorial Zionisme, dan kontrol lobi politik di Amerika Serikat. Tanpa adanya perlawanan kolektif dari kekuatan regional Arab serta dukungan dari aktor global seperti Rusia dan Cina, proyek imperialisme ini akan terus meluas.
Perang bukan lagi kemungkinan jauh, melainkan instrumen yang sedang disiapkan untuk memastikan bahwa tidak ada kekuatan lain yang mampu menantang dominasi absolut koalisi AS-Israel di masa depan.
Muhammad Thaufan Arifuddin. Dosen Ilmu Komunikasi Fisip Universitas Andalas dan lulusan Sekolah Pascasarjana Pembangunan Internasional (GSID), Universitas Nagoya, Jepang.
Simak juga Video Jimly Bicara Kondisi Geopolitik, Sebut Prabowo Layak Diperhitungkan
[Gambas:Video 20detik]
(rdp/imk)
kolom donald trump board of peace
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
detikFinance
Koper Diskon hingga 70% di Transmart Full Day Sale
detikTravel
Bosan ke Mal Terus? Cobain 17 Spot Jalan-jalan Seru di Jakarta Ini Buat Weekend!
detikInet
China Turunkan Robot Untuk Atur Lalu Lintas Selama Liburan
detikHot
Momen Lembu Rayakan Ultah Bareng Masayu Anastasia dan Anak
detikHealth
Video: Benarkah Tempe Memicu Asam Urat? Ini Faktanya
Wolipop
Viral Momen Son Ye Jin Rekam Hyun Bin Menang Baeksang Awards, Bikin Gemas!
detikOto
Kualifikasi MotoGP Prancis 2026: Marc Marquez Gagal Start Pertama!




