Iran Perkuat Situs Militer dengan Beton di Tengah Ketegangan dengan AS
Iran dilaporkan telah memperkuat sejumlah situs militer sensitifnya dengan perisai beton dan mengubur pintu masuk terowongan di fasilitas nuklir. Langkah ini terungkap melalui citra satelit terbaru di tengah meningkatnya ketegangan akut dengan Amerika Serikat dan ancaman perang regional. Pembangunan ini dilakukan di kompleks militer Parchin dan fasilitas nuklir Isfahan serta Natanz.
Perisai Beton di Parchin dan Penguburan Terowongan Nuklir
Citra satelit yang dirilis baru-baru ini menunjukkan Iran telah membangun perisai beton di atas fasilitas baru di kompleks militer Parchin, sekitar 30 km tenggara Teheran, dan menutupinya dengan tanah. Pembangunan ini bertujuan untuk memperkuat situs tersebut dari potensi serangan udara. Kompleks Parchin sendiri dilaporkan pernah dibom oleh Israel pada tahun 2024, di tengah memanasnya konflik regional.
Simak artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Selain itu, citra satelit juga memperlihatkan Iran telah mengubur pintu masuk terowongan di fasilitas nuklir Isfahan, yang sebelumnya dibom oleh Amerika Serikat selama perang 12 hari antara Israel dan Iran tahun lalu, di mana AS turut bergabung atas nama Israel. Pintu masuk terowongan di dekat Natanz, lokasi dua pabrik pengayaan uranium Iran lainnya, juga telah diperkuat.
Menurut pantauan Mureks, citra satelit memberikan gambaran langka aktivitas Iran di beberapa lokasi yang menjadi pusat ketegangan dengan Israel dan Amerika Serikat.
Analisis Pakar dan Klaim Iran
Institut Sains dan Keamanan Internasional (ISIS) dalam analisis citra satelit pada 22 Januari 2026, menyoroti kemajuan pembangunan “sarkofagus beton” di sekitar fasilitas baru yang diidentifikasi sebagai Taleghan 2 di Parchin. Pendiri ISIS, David Albright, menyatakan melalui platform X, “Stalling the negotiations has its benefits: Over the last two to three weeks, Iran has been busy burying the new Taleghan 2 facility … More soil is available and the facility may soon become a fully unrecognizable bunker, providing significant protection from aerial strikes.”
ISIS juga melaporkan pada akhir Januari bahwa citra satelit menunjukkan upaya baru untuk mengubur dua pintu masuk terowongan di kompleks Isfahan. Pada awal Februari, semua pintu masuk ke kompleks terowongan tersebut disebut “sepenuhnya terkubur”.
Iran sendiri secara konsisten membantah mencari senjata atom dan menegaskan bahwa program nuklirnya murni untuk tujuan sipil. Klaim ini didukung oleh intelijen AS dan badan pengawas nuklir PBB yang tidak menemukan bukti Iran mengejar senjata nuklir tahun lalu.
Negosiasi Buntu dan Eskalasi Militer
Di sisi diplomatik, perwakilan AS dan Iran telah mencapai pemahaman tentang “prinsip panduan” utama dalam pertemuan di Jenewa pada Selasa, 17 Februari 2026, setelah putaran pertama di Oman pada 6 Februari 2026. Namun, belum ada terobosan signifikan yang dicapai.
Washington berupaya memperluas cakupan kesepakatan untuk mencakup pembatasan pada persenjataan balistik Iran dan dukungannya terhadap sekutu regional, sebuah tuntutan yang didorong oleh Israel. Namun, Teheran bersikeras bahwa ketentuan ini tidak dapat dinegosiasikan, meskipun terbuka untuk membahas pembatasan program nuklirnya dengan imbalan pencabutan sanksi.
Sementara diplomasi terus berjalan, kedua belah pihak meningkatkan tekanan militer. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengadakan serangkaian latihan perang pada Senin dan Selasa di Selat Hormuz. Pada Rabu, Teheran mengumumkan latihan angkatan laut gabungan baru dengan Rusia di Laut Oman, yang menurut Laksamana Muda Hassan Maqsoudlou, bertujuan mencegah tindakan sepihak di wilayah tersebut.
Amerika Serikat juga meningkatkan kekuatan militernya di kawasan itu. Presiden Donald Trump telah memerintahkan kapal induk kedua ke wilayah tersebut, dengan USS Abraham Lincoln dan sekitar 80 pesawatnya sudah ditempatkan sekitar 700 kilometer dari pantai Iran. Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt pada Rabu menyatakan, “Iran akan sangat bijaksana untuk membuat kesepakatan” dengan AS. Trump juga mengunggah di Truth Social bahwa jika Iran tidak membuat kesepakatan, AS mungkin perlu menggunakan pangkalan udara di Samudra Hindia untuk “memberantas potensi serangan oleh Rezim yang sangat tidak stabil dan berbahaya”.




